Kesalahan dalam Perekrutan Karyawan

Perusahaan yang baik adalah perusahaan yang tidak hanya memiliki kinerja atau produk yang bagus, namun juga karyawan dan sumber daya manusia yang membuat perusahaan dapat beroperasi dengan lancar.

Hal-hal berikut ini akan berguna bagi perusahaan yang baru pertama kali mau merekrut karyawan. Karena kita tidak bisa sembarangan dalam merekrut karyawan maka kita harus memperhatikan berbagai hal seperti karakter, sifat, kemampuan yang dimiliki, dan lainnya. Jika merekrut dengan memperhatikan hal-hal tersebut maka diharapkan perusahaan akan mendapatkan karyawan yang tepat dan akan meningkatkan kinerja perusahaan.

Berikut ini adalah beberapa kesalahan dalam perekrutan karyawan yang sebaiknya dihindari:

1. Tidak memeriksa CV / resume

Ketika menerima berkas lamaran pekerjaan seperti surat lamaran, CV, atau resume pastikan untuk memeriksa berkas-berkas tersebut sebelum memanggil untuk wawancara. Memang terkadang ada kandidat yang CV atau resumenya kurang jelas atau sesuai, tapi saat wawancara ternyata kandidat tersebut memenuhi kriteria yang diinginkan, meskipun hal ini jarang terjadi.

Namun agar tidak membuang waktu, sebaiknya periksa dengan teliti apakah resume / CV dari kandidat yang akan dipanggil untuk wawancara kerja benar-benar sudah memenuhi kriteria untuk pekerjaan yang ditawarkan. Jangan berasumsi untuk posisi pengalaman kerja kandidat sebelumnya karena mungkin sama sekali tidak berhubungan dengan posisi lowongan yang perusahaanmu butuhkan.

Sebagai contoh, kandidat yang menulis pengalaman kerja sebagai marketing content specialist tidak berarti memiliki pengalaman kerja sebagai sales toko / pramuniaga karena marketing content specialist adalah seseorang yang bertanggung jawab untuk menulis dan mengedit konten untuk kampanye pemasaran digital dan sama sekali berbeda dengan sales toko.

2. Tidak bertanya secara spesifik

Wawancara kerja bertujuan untuk mengenal seseorang, memeriksa kondisi psikologis seperti bahasa tubuh dan ucapan, dan untuk menentukan apakah kandidat tersebut bisa bekerja di perusahaan untuk posisi lowongan yang ditawarkan. Jangan hanya mengajukan pertanyaan umum seperti “Mengapa kamu melamar ke perusahaan ini?”, “Apa kelebihan dan kekuranganmu?”, “Mengapa kamu ingin melamar posisi ini?”.

Memang tidak ada salahnya untuk mengajukan pertanyaan umum seperti diatas tapi kamu juga perlu mempersiapkan pertanyaan spesifik yang berkaitan dengan posisi lowongan kerja yang ditawarkan seperti “Apakah kamu pernah menangani penjualan barang langsung ke end user?”, “Apakah kamu paham pekerjaan stok barang gudang?”

Cara paling mudah adalah dengan membuat daftar tugas dari posisi pekerjaan yang ditawarkan dan membuat itu semua menjadi pertanyaan. Berikut ini adalah contoh pertanyaan untuk posisi lowongan sebagai sales toko:

TugasPertanyaan
  • Menawarkan barang kepada konsumen
  • Memaksimalkan penjualan
  • Melakukan stok barang gudang
  • Bagaimana caramu melakukan closing sales?
  • Bagaimana caramu melakukan upselling?
  • Apakah kamu paham stok barang gudang?

3. Tidak memberi pelatihan

Ketika kamu sudah mendapatkan karyawan baru, jangan lupa untuk memberikan pelatihan atau training. Durasi dan target pelatihan akan berbeda-beda untuk setiap karyawan tergantung dari pengalaman kerja dan keahlian yang dimiliki. Pelatihan yang diberikan juga sebaiknya transparan, memberikan daftar apa saja yang perlu dipelajari, memiliki tujuan yang jelas dan realistis, yang bisa dicapai oleh karyawan baru tersebut.

Kecenderungan yang ada dalam memberikan pelatihan bagi karyawan baru biasanya adalah membuat target yang terlalu tinggi dalam durasi yang terlalu singkat. Bahkan tidak jarang juga karyawan baru diberhentikan setelah dites 1 minggu dengan alasan tidak bisa mengerjakan pekerjaannya atau kurang maksimal bekerjanya. Padahal tidak semua manusia bisa belajar dengan cepat, banyak diantaranya perlu waktu tertentu untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan kerjanya. Ketika sudah bisa beradaptasi, barulah kelihatan performa kinerjanya seperti apa.

Selain itu juga perlu dibuat daftar kesalahan yang bisa dan yang tidak bisa dimaklumi saat karyawan baru tersebut masih dalam pelatihan. Tentunya daftar kesalahan yang dibuat haruslah sesuai dengan daftar apa saja yang dipelajari. Berikut adalah contoh daftar yang dimaksud:

DipelajariKesalahan DimaklumiKesalahan Fatal
  • Menawarkan barang kepada konsumen
  • Memaksimalkan penjualan
  • Melakukan stok barang gudang
  • Gagal menjual
  • Tidak bisa menambah penjualan
  • Salah hitung stok
  • Pasif, diam saja
  • Memaksa untuk membeli
  • Mencuri stok
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.